Yah, dengarkan. Ini lebih dari malam-malam yang selalu aku
dongengkan padamu. Adalah kerinduan yang mengendap dari kalender
kering yang lalu. Hujan telah datang, kembali mengingatkan pada bidang yang
membesarkan.
Mungkin sedang menyusun ruang imajinya. Ruang yang akan menembus ke luar angkasa. Kita akan memetik segala mantra disana. Untuk ayah,ibu,langit,bulan,bintang,matahari,awan,hujan,kenangan, jalur masa depan. Di jalur itu, buah-buah bertetasan pada ketiak dahan yang menjulang dari akar yang tak pernah lupa disiram.
Aku punya mesin pemintal hujan. Derunya adalah mantra yang
akan mengantarkanku melebur diantara hening dingin kota ini. Aku menyelinap ke
jendelamu, dalam bilik-bilik bambu basah di musim penghujan. Aku melihat ibu di
rung birunya memasak bulan buruan semalam. Bumbunya cukup sederhana, sebait doa
untuk keluarga.
Adik kemana?
Mungkin sedang menyusun ruang imajinya. Ruang yang akan menembus ke luar angkasa. Kita akan memetik segala mantra disana. Untuk ayah,ibu,langit,bulan,bintang,matahari,awan,hujan,kenangan, jalur masa depan. Di jalur itu, buah-buah bertetasan pada ketiak dahan yang menjulang dari akar yang tak pernah lupa disiram.
Yah, aku bisa menjadi awan,yang akan sampai di atap merah rumahmu,
rumah ibu, rumah para pemenang, dan simaklah ini sebait rindu dari mantra pemintal hujan. Kalau lelah merapal, aku akan sampai dalam peluknya pada senja yang telah
ditentukan.

This comment has been removed by the author.
ReplyDelete