Skip to main content

Mantra Pemintal Hujan

Yah, dengarkan. Ini lebih dari malam-malam yang selalu aku dongengkan padamu. Adalah kerinduan yang mengendap dari kalender kering yang lalu. Hujan telah datang, kembali mengingatkan pada bidang yang membesarkan.

Aku punya mesin pemintal hujan. Derunya adalah mantra yang akan mengantarkanku melebur diantara hening dingin kota ini. Aku menyelinap ke jendelamu, dalam bilik-bilik bambu basah di musim penghujan. Aku melihat ibu di rung birunya memasak bulan buruan semalam. Bumbunya cukup sederhana, sebait doa untuk keluarga.

Adik kemana?

Mungkin sedang menyusun ruang imajinya. Ruang yang akan menembus ke luar angkasa. Kita akan memetik segala mantra disana. Untuk ayah,ibu,langit,bulan,bintang,matahari,awan,hujan,kenangan, jalur masa depan. Di jalur itu, buah-buah bertetasan pada ketiak dahan yang menjulang dari akar yang tak pernah lupa disiram.

Yah, aku bisa menjadi awan,yang akan sampai di atap merah rumahmu, rumah ibu, rumah para pemenang, dan simaklah ini sebait rindu dari mantra pemintal hujan. Kalau lelah merapal, aku akan sampai dalam peluknya pada senja yang telah ditentukan.







Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

KERRABAN SAPE

Bila aku mengingat tentang kerapan sapi Air mataku bertetesan Karena aku merasakan sakitnya pantat sapi yang dilukai dengan paku Seandainya aku yang dilukai? Mereka tak punya perasaan Sangat kejam Hanya berpikir tentang uang dan kemenangan!!! Jika pantat mereka yang dilukai Pasti mereka melapor ke polisi

KEMBALI PADA MASA LALU

Aku ingin kembali pada masa lalu Masa lalu ketika terlahir dari rahim ibuku Dimana aku mendapatkan teman sejati Teman yang tak pernah berkhianat padaku Waktu semakin berjalan Mengikuti arus bumi Umurku tak lagi panjang Dan semuanya akan berlalu Tuhan, aku ingin memutar waktu Kembali pada masa lalu Masa lalu yang indah Masa lalu yang menyenangkan Mustahil! Jika aku bisa memutar waktu Dan kembali pada masa lalu Karena waktu telah berjalan mengikuti arus bumi ini

TENTANG PANTAIKU

Hari ini jadi saksi Tinta hitam kertas putih Perahu kayu Dan burung-burung yang bersandiwara Pantaiku dikerumuni bakau Burung-burung bermain sandiwara Bersama lantunan syair berdesir dari angin semilir