Skip to main content

Sepotong Surat


Selamat siang tuan,


Beberapa minggu ini aku senang sekali sebab kini aku menjadi makhluk yang bebas tuan. Bebas tidur sepuasnya dan makan sepuasnya. Dan aku menjadi sangat senang terlebih karena kini aku mempunyai kawan baru : seorang lelaki paruh baya yang dikelilingi anak-anak kecil, seorang wanita yang gemar sekali memberiku ikan sisa dan ikan segar yang nikmat sekali, juga dua orang anak (perempuan dan laki-laki) yang sering mengusiliku. Walaupun anak perempuan itu pernah mengataiku bodoh lantaran aku menghindar ketika yang lain merebut makanan pemberian wanita baik hati yang kusebut tadi. Aku tak suka bertengkar, tuan. Sungguh. Seperti yang kau ajarkan pada anak-anak kecil juga dua anak (perempuan dan laki-laki) yang sering bertengkar kecil (yang pasti bukan perang yang melibatkan ranjau juga senjata tajam). Bukan berarti aku tak tangguh. Aku tahu lawan mana yang harus aku lawan dan lawan yang harus aku hindar lantaran ia curang. Perlu kau tahu (katakan ini pada anak perempuan yang mengataiku bodoh tadi) yang curang sudah pasti kalah sebelum ia berperang sekalipun.
Tuan, kudengar Negeri ini akan mempunyai Presiden baru. Benarkah, tuan?. Lalu akankah ada yang berubah dari rumah ini setelah pergantian kedudukan itu? (Pertanyaan ini tentu tak perlu kau jawab). Menjelang pergantian pemimpin baru di Negeri ini suasana ramai sekali, tuan. Tua muda menjagokan kandidat yang dipilihnya, padahal satu pun dari keduanya aku tak kenal sama sekali. Hanya yang kutahu tubuh salah satu kandidat diantaranya persis dengan tubuh kau pakai. Perbedaan yang sangat khas tentu terletak pada ilalang yang tumbuh di kepala juga mesin waktu yang tertanam di dalamnya. Aku melihat dan mendengar sendiri riuh rendah suara mereka yang bersuara di depan masjid sambil menunggu waktu berbuka puasa. Ada tak sedikit gambar dua orang lelaki yang dipajang. Lalu ada yang menyerukan lafadz “Allahu Akbar”. Ada pula yang membagikan kalender dengan gambar yang sama dengan gambar yang dipajang. Inikah yang dinamakan dengan perlambangan bentuk syukur, tuan?
Bulan ini tepat dengan bulan yang menghinggapimu, semua yang resmi menjadi bagian dari Negeri ini menyalurkan hak suaranya untuk memilih salah satu dari dua pasangan lelaki yang kuceritakan tadi. Tentu memilih keduanya pun tak salah, hanya saja mereka tak akan menghitung suara manusia yang bimbang hatinya. Tak memilih pun juga tak salah. Sebab semuanya punya alibi. Aku tak memilih mereka, tuan. Sebab aku tak mengenalnya. Pun tak pantas memilihnya. Tentu karena aku memang tak resmi berada di tanah yang luas ini. Oleh karenanya aku akan lebih memilihmu menjadi Presiden (di rumah ini, di keluarga yang hangat ini). Tentu karena aku lebih mengenalmu, dan kupikir kau pantas mendapatkan jabatan tanpa gaji itu, tuan. Ya, kau rela menjadi pemimpin yang tak digaji bahkan ketika kekayaanmu tak akan pernah sebesar kekayaan Ia yang Maha kaya. Tuan, aku ceritakan padamu sekarang, wanita yang sering memberikan makanan padaku itu sering mengoceh lantaran harga kebutuhan sehari-hari semakin melambung tinggi, ia terus mencari siasat agar tak terjadi defisit di rumah ini. Tuan, kau tak salah memilihnya sebagai menteri keuangan juga menteri dalam negeri ( tentu hanya di rumah ini ). Bagiku rumah ini sudah cukup menjadi Negaraku, sehingga tak akan masalah bagiku saat aku tak menjadi bagian yang resmi dari Negeri yang sesungguhnya ini, Indonesia.
Tuan, kutahu dari facebook yang dibuka anak perempuanmu tadi bahwa hari ini kau genap bertambah umur. Benar,tuan?. Maka aku memintanya menuliskan ini untukmu, beberapa helai abjad yang sudah lama tak aku ungkapkan ( tentu karena tak ada satu pun yang mengerti ). Kukatakan padanya semua yang ada di seluruh halaman ini. Dan ini perkataan yang jujur, tuan. Bukankah jujur lebih menenangkan hati?. Selamat bertambah umur, tuan. Semoga semua yang menggelayuti selalu berkah dan mendekatkan kita semua pada Pemilik kehidupan yang sejati. Semoga selalu bersemangat dalam mengekspresikan segala kemampuan yang bisa dilakukan. Semoga senantian memberikan manfaat dan semoga sukses di dunia dan di akhirat. Aamiin..
Tuan Raharja, terimakasih atas nama yang telah kau berikan padaku. Aku menyukai nama itu. Nama panggilan yang Indonesia sekali. Ya nama itu, JA(E)MIL (baca A dengan E) . Maka aku tambahkan sendiri namaku menjadi “Muhammad Ja(e)mil Ramadhan”. Kuharap anak lelakimu tak marah dengan ini (he he he). Aku menyukai namanya, tuan. Sungguh.
Surat ini surat dari seluruh rakyat kecilmu. Maka perlu kau baca hingga tuntas. Miaaauuwwww...

(Salam sungkem sepuluh jari.
Tertanda, Ja(e)mil mewakili Fai dan Azmil).
                 

                                                                                                                               

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Dua Bersaudara

Adalah cerita anak pertama dan kedua yang sangat berbeda. Akulah tokoh anak pertama itu. Panggil Fai. Semenjak aku dilahirkan aku ditakdirkan menjadi anak tunggal sampai usiaku kurang lebih 5 tahun 4 bulan. Sebagai anak tunggal ketika itu, aku merasa kesepian di rumah. Hanya ada ayah dan ibu. Ya, hanya ada tiga tokoh di rumahku. Ditambah lagi, keluargaku yang perantau, membuat kami benar-benar hanya bertiga di kota tempat aku di besarkan -Sumenep -. Tentu masih ada tetangga di sekitar rumahku,ya untunglah mereka begitu ramah dan dekat dengan keluargaku. Sayangnya, walau begitu anak-anak seusiaku ketika itu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki. Mungkin dengan alasan itu dulu aku menjadi sedikit tomboy. Tak ada cerita bermain boneka, yang ada hanya bermain layang-layang, kelereng, kerapan sapi ( yang terbuat dari karet), dan bermain sepeda. Aku tidak suka bermain boneka, walaupun ayah suka membelikanku boneka, terhitung beberapa koleksi boneka yang pernah aku miliki, seperti pengu...

Untitled

Suatu ketika, sebelum keberangkatanku ke tanah ini, Rama berkata " Berkawanlah dengan orang banyak, tak usah cari perkara. Sebab kawan yang melapangkan jalanmu". Dan semenjak itu aku semakin meyakini kekuatan tali persaudaraan dari seorang teman. Aku bahkan pernah menjalin suatu hubungan asmara (yang tidak sepatutnya terjadi) dengan teman kecilku ketika aku beranjak remaja (SMP) hingga gerbang perkuliahan. Sekian lama hubungan itu dirajut, aku baru sadar bahwa seorang teman adalah teman, bukan pacar, bisa jadi teman adalah pacar, tapi tidak semua bisa begitu. Di akhir hubungan itu, dapat ditarik kesimpulan lebih baik menjadi teman. Sebab jika awalnya "diniatkan" menjadi teman, akan susah menjadi pacar, pun sebaliknya (Anggap saja sebagai latar belakang tulisan, walaupun sedikit curhat). Main-main di Kepetingan. Seru! Di masa perkuliahan bertemu dengan banyak teman baru. Banyak pengalaman berjalan sendiri tanpa dekapan orang tua di tanah rantau. Banyak ...

Ucapan Sederhana Anak Pertama

14 Juli 2013 pukul 13:20  " Ini hanya ucapan sederhana dari anak pertama. Ucapan anak pertama untuk ayahnya pada harinya, hari yang telah memberikan setangkai usia dari yang Kuasa. Karena anak kedua kesulitan merangakai kata, maka izinkanlah anak pertama yang mewakilinya ",   : Air mengalir// Usiamu berjalan menuju ke hilir// Mencari akhir…  Ucapan yang sama yang pernah kau berikan padaku di awal usia 14ku. Hahaha… masih ingat kan… Selamat ulang tahun,ramahku,guruku,superheroku,sahabatku.... semoga selalu diberikan keberkahan di setiap pertambahan usiamu,diberikan kesehatan,diberikan kebahagiaan. Semoga tujuan kita tercapai. Hehe..Aamiin…   Tak terasa angka 4 dan 7 hinggap di ladangmu. Ladang yang telah kau tanami segala ilmu untuk keluargamu. Rumput-rumput meranggas pada karat besi yang terus kau asah hingga tak pernah tumpul kau pakai. Rasanya kemarin usiamu baru 30-an, saat masih senang-senangnya menceritakanku raksasa tua yang tamak dan buta. Ra...