Tuan yang terperangkap di dalam pigura
menjamur
di usianya yang ke-sepuluh
Jamur warna-warni
menerobos dinding bangunan ini
Bangunan yang menyanyikanku
alphabet,
dan angka-angka
Angka tua yang beranak pinak
jadi seribu, lalu sejuta,
dan tak pernah mati dalam usianya
Jantungnya
membelah lima
tertanam di dada lelaki
yang gagah di samping kiri
Lelaki
yang setia
dan tak akan pergi dari tempat ini
Menemani siapa saja
atau akan terus singgah
sampai genap janjinya.
Tuan yang terperangkap di dalam pigura
goresan abjad menemani resah lencana
di dada kiri
Dada yang sepertinya sudah berlubang,
lantaran rayap lapar tak puas
dengan kayu rampasan semalam
Tuan yang terperangkap di pigura
berdasi merah bergaris cinta
Seperti cinta ibu yang tak mampu
menanak nasi di tanggal renta
yang terlunta-lunta
Tanggal yang sepertinya akan ditendang
dari setiap kalender
di bulan malang
Bulan-bulan mandul
dengan angka yang semakin pandai bersiul
Kemarin sore aku melihat tuan
tersenyum pasi di bingkai hitam,
Aku suka senyum tuan
mungkin dipaksakan,
atas beban di pundak kanan
yang semakin menantang
Sedang seminggu yang lalu,
tuan berbincang di kotak hitam
Orang-orang bertepuk tangan,
padahal dalam hati kicau buruk
tak henti dilemparkan.
Tuan, selamat menikmati masa lalu,
saat orang-orang bertepuk tangan
atau pun demo meminta tuan
meninggalkan kursi kesayangan
* diikutsertakan dalam kampanye sastra ITB
Comments
Post a Comment