CERITA TENTANG PENERBANGAN
PUKUL 07.00 28-01-2008
Bendera
Yang dikibarkan setengah tiang itu
Ujungnnya menyentuh tembok-tembok keangkuhan
Dengan warna merah kusam dan
Warna putih yang di hinggapi bintik-bintik hitam
Sulit untuk dihilangkan
Kau tahu mengapa begitu?
Kemarin pagi peti berisi tubuh beku itu diterbangkan
Dari Halim Perdana Kusuma menuju solo
Penerbangan beku tubuh gemuk berlemak
Disambut laksaan tangan melambai lunglai dan
Jjutaan matah memerah memeram air mata
Langit mendung derita hujan
Matahari tertidur pulas dalam peti
Di bungkus kain putih
Bukan dengan bendera kusam
Lewat telinganya
Kini, hanya Al-fatihah kiriman rakyat
Menerbangkannya kea lam baka.
UNTUKMU YANG TAK MENGERTI
Aku ingin menancapkan
Belati ini padamu
Menumpahkan darahmu menciumu aroma gelak tawa
Yang pudar seperti namamu
Aku ingin membasuh hatimu
Agar sadar, mengerti, tau, dan
Ya seperti semua yang aku inginkan
Kau salah!
Tidakkah kau bersimpuh pada tuhanmu, orang tuamu,
Gurumu, dan
Bumi tempat kau berpijak ini
Cium kakinya!
Agar kau mengerti
Akan cintanya yang telah kau campakkan
Bersama darah kotor
Yang mengalir di dalam tubuhmu.
AKU BENCI NYAMUK
(RSUD Sumenep)
Mengapa?
Karena engkau telah membuat
Urat nadiku tersakiti
Bius-bius nakal itu menusuk daging berbulu seperti tanganku
Nyamuk,
Pernahkah engkau mengerti?
Apakah di duniamu tak ada cinta?
Kau tau cinta?
Tuhan,
Apakah engkau tak memasukkan bius cinta pada nyamuk-nyamuk nakal itu?
Mereka jahat, tuhan…
Mereka yang telah menjebloskanku ke ruang hampa ini
Hampa segalanya
Tapi bukan hampa cinta
Disini dunia cinta yang penuh dengan bius
Yang terkadang sampai membuatku menumpahkan air mata
Tuhan, mengapa harus ada nyamuk?
Habisi mereka, tuhan…
SURGAKU HILANG
Dimana lagi harus kusembunyikan mata ini?
Sementara mataku tak igin menangis
Jeritan angin
Membuat hati ini kulemparkan
Ke tepi jurang kehidupan yang dalam
Hari-hari hitam
Menampakkan pintu-pintu dari lubang kedzaliman
Ufh..
Berbagai aliran tanpa identitas menumpahkan
Segudang Tanya
“kemana arah jalan yang yang harus kita tempuh untuk pergi ke surga?”
Sementara angin tak tau hendak kemana
Jantung-jantung berdetak dengan setumpuk dahaga merah
Kini tak ada lagi manusia yang melenterai bumi.
BHAK-REMBHAK NA’-KANA’ TA’ KARABAT
(untuk teater pena)
Bingkai memotret sunyi
Dalam igauan yang tak terdengar
Hembusan angin mengajakku
Menari di atas gelap
Menyogsong pahitnya kekerasan
Bandit-bandit mengusirku
Membbiarkanku sendiri
Terlelap dalam kesunyian
Meniupkan terompet keangkuhan
Membuat gendang telingaku
Hancur, lebur jadi abu
“Manabi sampeyan tak bangal acarok, jha’ ngako oreng Madura!,
Abdhina oreng Madura tak manggha manabi Madura ancor!”
Pa’ opa’ eleng hilang diterkam suasana
Aku ingin merdeka
Bebas dari usiran massa
Aku akan meluruskan jungkir balik permainan masa lampau
Tuan,
Duniaku sunyi, sepi
Gelap tanpa warna
Tapi PENA akan tetap ceria
Walau tak ada ruang tuk berkarya
PENA akan Berjaya
Hingga akhir hayat tiba
Kami yang terhina
Kami yang tersiksa
Akan terus menunggu
Nanti dunia kembali ceria
Dengan warna-warna baru
Yang tak akan pernah using
Wahai yang terhormat,
Kami memang hanya
Segelintir nafsu yang tak berdaya
Tapi kami akan terus berkarya
Meski hanya impian semata
Jika nanti PENA Berjaya,
Akan kuacungkan jari tengahku
“itu bukan impian, itu kenyataan”
Wahai yang terhormat,
Kami segelintir nafsu ingin terhormat!
NYANYIAN PELAJAR
Siapakah yang tega membiarkan anak-anak
Tak tahan membaca aksara carakan seperti ulat?
Coba dengarkan dengan jelas!
Memory mereka tak kuat
Untuk mennyimpan semua itu
Ayo kawan
Dengan sepatumu
Masukkan semua aksara
Ke dalam jejakmu
Jangan beri waktu untuk berucap kata
Karena ia hanya sedang
Belajar membaca
PUKUL 07.00 28-01-2008
Bendera
Yang dikibarkan setengah tiang itu
Ujungnnya menyentuh tembok-tembok keangkuhan
Dengan warna merah kusam dan
Warna putih yang di hinggapi bintik-bintik hitam
Sulit untuk dihilangkan
Kau tahu mengapa begitu?
Kemarin pagi peti berisi tubuh beku itu diterbangkan
Dari Halim Perdana Kusuma menuju solo
Penerbangan beku tubuh gemuk berlemak
Disambut laksaan tangan melambai lunglai dan
Jjutaan matah memerah memeram air mata
Langit mendung derita hujan
Matahari tertidur pulas dalam peti
Di bungkus kain putih
Bukan dengan bendera kusam
Lewat telinganya
Kini, hanya Al-fatihah kiriman rakyat
Menerbangkannya kea lam baka.
UNTUKMU YANG TAK MENGERTI
Aku ingin menancapkan
Belati ini padamu
Menumpahkan darahmu menciumu aroma gelak tawa
Yang pudar seperti namamu
Aku ingin membasuh hatimu
Agar sadar, mengerti, tau, dan
Ya seperti semua yang aku inginkan
Kau salah!
Tidakkah kau bersimpuh pada tuhanmu, orang tuamu,
Gurumu, dan
Bumi tempat kau berpijak ini
Cium kakinya!
Agar kau mengerti
Akan cintanya yang telah kau campakkan
Bersama darah kotor
Yang mengalir di dalam tubuhmu.
AKU BENCI NYAMUK
(RSUD Sumenep)
Mengapa?
Karena engkau telah membuat
Urat nadiku tersakiti
Bius-bius nakal itu menusuk daging berbulu seperti tanganku
Nyamuk,
Pernahkah engkau mengerti?
Apakah di duniamu tak ada cinta?
Kau tau cinta?
Tuhan,
Apakah engkau tak memasukkan bius cinta pada nyamuk-nyamuk nakal itu?
Mereka jahat, tuhan…
Mereka yang telah menjebloskanku ke ruang hampa ini
Hampa segalanya
Tapi bukan hampa cinta
Disini dunia cinta yang penuh dengan bius
Yang terkadang sampai membuatku menumpahkan air mata
Tuhan, mengapa harus ada nyamuk?
Habisi mereka, tuhan…
SURGAKU HILANG
Dimana lagi harus kusembunyikan mata ini?
Sementara mataku tak igin menangis
Jeritan angin
Membuat hati ini kulemparkan
Ke tepi jurang kehidupan yang dalam
Hari-hari hitam
Menampakkan pintu-pintu dari lubang kedzaliman
Ufh..
Berbagai aliran tanpa identitas menumpahkan
Segudang Tanya
“kemana arah jalan yang yang harus kita tempuh untuk pergi ke surga?”
Sementara angin tak tau hendak kemana
Jantung-jantung berdetak dengan setumpuk dahaga merah
Kini tak ada lagi manusia yang melenterai bumi.
BHAK-REMBHAK NA’-KANA’ TA’ KARABAT
(untuk teater pena)
Bingkai memotret sunyi
Dalam igauan yang tak terdengar
Hembusan angin mengajakku
Menari di atas gelap
Menyogsong pahitnya kekerasan
Bandit-bandit mengusirku
Membbiarkanku sendiri
Terlelap dalam kesunyian
Meniupkan terompet keangkuhan
Membuat gendang telingaku
Hancur, lebur jadi abu
“Manabi sampeyan tak bangal acarok, jha’ ngako oreng Madura!,
Abdhina oreng Madura tak manggha manabi Madura ancor!”
Pa’ opa’ eleng hilang diterkam suasana
Aku ingin merdeka
Bebas dari usiran massa
Aku akan meluruskan jungkir balik permainan masa lampau
Tuan,
Duniaku sunyi, sepi
Gelap tanpa warna
Tapi PENA akan tetap ceria
Walau tak ada ruang tuk berkarya
PENA akan Berjaya
Hingga akhir hayat tiba
Kami yang terhina
Kami yang tersiksa
Akan terus menunggu
Nanti dunia kembali ceria
Dengan warna-warna baru
Yang tak akan pernah using
Wahai yang terhormat,
Kami memang hanya
Segelintir nafsu yang tak berdaya
Tapi kami akan terus berkarya
Meski hanya impian semata
Jika nanti PENA Berjaya,
Akan kuacungkan jari tengahku
“itu bukan impian, itu kenyataan”
Wahai yang terhormat,
Kami segelintir nafsu ingin terhormat!
NYANYIAN PELAJAR
Siapakah yang tega membiarkan anak-anak
Tak tahan membaca aksara carakan seperti ulat?
Coba dengarkan dengan jelas!
Memory mereka tak kuat
Untuk mennyimpan semua itu
Ayo kawan
Dengan sepatumu
Masukkan semua aksara
Ke dalam jejakmu
Jangan beri waktu untuk berucap kata
Karena ia hanya sedang
Belajar membaca
tulisannya bagus,
ReplyDeletekembangkan!